31 Dec 2021

Pesan Terakhir

03:09 0 Comments

 Dear ka rory,

Akhirnya tiba di bagian akhir. Tiba di muara dari penyelaman lautan perasaan. Udah tau semuanya kan ? Iya. Begitu yang aku rasain. Tentang banyaknya rasa senang yang kamu kasih, sebagian linang yang ga mau aku ceritain banyak banyak. Sebab, ketika nanti kita (aku) mulai lupa, aku cuma mau mengenang kamu melalui rasa senang yang selalu mengudara. Itu saja.


Mungkin setelah ini, aku akan menghindar, dalam jangka waktu yang tak ditentukan. Selain karna malu, aku juga takut. Takut kalau setiap melihat matamu, masih ada getaran, masih ada sisa rasa yang tak kuasa ku bendung sendirian.


Makasih kak, udah kasih rasa senang yang tak bisa berlaku sebaliknya. Maaf karna ga pernah bisa kasih tenang pas mood dan pikiran jadi bumerang. Cukup sekian pelabuhan yang ingin ku ceritakan, kini sudah saatnya ku lepaskan jangkar dan persiapkan kapalku kembali berlayar. Tenang, namanya pelabuhan tak akan berpindah kemana mana. Datanglah saat kau butuh sesuatu, sebab aku ada disana, membawakanmu payung saat langit mulai mendung.


Tertanda,

Sahabat yang menyayangimu

Sebait

03:07 0 Comments

 Aku mencintainya seutuh - utuhnya hati

Menyelami hatinya kadang buatku sesak kehabisan nafas

Memahami dirinya sering kali buatku mematung tak bergeming

Biarpun begitu, beralari kearahnya adalah hal yang paling menyenangkan

Perihal letihnya berlari, aku tak peduli, biar hati yang mengurusi

Nahkoda dan Rasa

03:05 0 Comments

 Aku menyukainya tanpa sengaja

Aku menyayanginya tanpa karena

Aku merindunya tanpa suara

Aku mencintainya, mencintaimu tanpa ragu.


Bahkan ketika logika menjadi nahkoda

Menjauh pada muara mengarungi segara

Rasa selalu mengambil peran

Tuk kembali ke pelabuhan

30 Dec 2021

Maaf

23:30 0 Comments

Selamat karena sudah sampai hampir di halaman terakhir. Cerita tentang kamu. Sesosok kamu yang terlalu banyak beri rasa senang, rasa senang yang buatku kencanduan.
Aku tak pernah menyangka akan ada hari ini. Hari yang paling menakutkan. Kehilanganmu. Aku kira, aku akan kehilanganmu setelah hari ini, ternyata tidak, tapi sebelumnya, sejak hari itu, hari dimana paling menyenangkan, untukku. Sebelum hari ini tiba, kamu terus menghindariku yang melangkah maju dan berharap akan ada rasa senang, atau lebih tepatnya masih ada rasa senang diantara kita. Sayapun ngga tau kenapa ? Apa karena sebuah rasa ? Rasa yang seharusnya tidak ada ? Atau mungkin karena pendapatku tentangmu dan bang adi ? Jika memang begitu, aku minta maaf. Maaf karena telah salah menilaimu. Maaf karena karena ku tak cukup mengenalmu saat itu. Maaf karena ku terlalu berusaha mencari tempat di hati dan pikiranmu. Maaf kak. Maaf.

23 Dec 2021

Party Partner

23:52 0 Comments

Untuk pertama kalinya. Pertama kalinya saya pergi jauh dan hanya berdua dengan lawan jenis. Seorang pria yang telah saya jatuh cintai sejak dulu. Saya tak menyangka bahwa yang dihadirinya adalah sahabat dekatnya. Saat itu, saat ketika kita menunggu acara berlangsung, dia menceritakan bagaimana dengan abang abangnya yang membua saya mengerti akan kehadiran sesosok abang di rumah sakit. Semestaaa, saya semakin menyayanginyaaa. Sepanjang yang saya hidup. Selama yang saya sanggup.


Saya melihat sisi lain dari dirinya. Sisinya yang ga becanda banyak banyak. Sisinya yang banyak membuka obrolan. Sisinya yang perhatian. Sisinya yang melindungi. Sisi sisi lain yang berbeda, menjadikannya sesosok pria dewasa.


Saya teramat senang semestaaa, sampai saya mau nangis. Saya ngga tau lagi bagaimana bercerita tentang rasa senang itu. Terlalu bahagia hingga kehabisan kata. Sebab berjalan disampingmu adalah hal paling menyenangkan lainnya. Menyantap hidangan dan segelas minuman segar berlatar dedaunan adalah hal paling romantis yang ku lakukan berasama mu.



Tapi sayangnya  keesokan harinya, dia banyak diam. Saya ngga tau kenapa. Dia seperti menghindar. Memang awalnya saya yang diam, karna saya sedang bertengkar dengan pikiran saya sendiri. Perihal dia yang bingung memilih diantara dua. Perihal saya yang tidak percaya diri karna hanya menjadi pilihan. Kadang, setakut itu saya untuk kehilangan. Lalu saya mendekatkan diri pada pemilik hati, pada yang Maha Membolak balikan hati agar hati saya dikuatkan dan dilapangkan ketika rasa takut dan kecewa itu datang. Saya mengadu banyak hal, terutama tentang keresahan, hingga semuanya tumpah lewat air mataI 


12 Dec 2021

Duabelas. Satudua. Duasatu

19:35 0 Comments

Tentang semua bentuk rasa senang. Rasa senang yang kali ini benar benar tidak bisa terlukis lewat kata. Rasa senang yang memang hanya saya yang cipta. Kali ini bukan karna kamu. Karna semua orang yang hadir di hidup, yang membersamai disetiap hari, nyatanya hangat pada hari ini.


Tapi lagi lagi, kamu yang ingin aku ceritakan. Karna sejujurnya, kamu sangat menyebalkan. Kamu yang hanya terus bersama bang adi. Kamu yang ga pernah mau dipisahkan. Kamu yang kemana mana harus nempel kaya perangko sama bang adi. Kamu yang hanya mijetin bang adi sepanjang hari. Kamu yang hanya peduli dengan bang adi. Kamu yang dipikiran mu hanya ada bang adi. Bang adi udah ada kak kalis kak, istrinya. Ga perlu seberlebihan ituuu. Kecewa pas diajak jalan jalan bareng, tp kamu menolak. Jalan jalannya sama bang adi. Harus banget sepaket kah ? Dan sejak saat itu, aku tak lagi mengajakmu. Aku terus berlari ke arahmu, aku terus berusaha mengajakmu, tapi sayangnya kamu malah menuju ke bang adi. Cemburu ? Tentu. Tapi apalah aku tuk rasa itu, terlebih kepada bang adi. Mungkin kak kalis juga rasa ini. Sadar ngga kalau beberapa kejadian, sikap bang adi terhadapmu, seperti sikapmu terhadapku ? Cuek. Kadang abai sama perhatian yang dikasih. Kadang nolak kalo dikasih obat. Kadang ga mau dideketin. Iya. Kaya gitu.


Terlepas dari cemburu, iri dengki. Hehe. Aku sungguh terkejud ketika kita masih dipersatukan di versa. Iya. Rasanya kehabisan kata. Antara senang juga bingung. Bingung bagaimana menyudahi semua perasaanku terhadap mu. Sebab tertawa bersama mu selalu buat candu. Begitu. Aku akan lebih kuat, lebih mengerti dan memahami sambil berjalan mundur.

2 Dec 2021

Last month

20:16 0 Comments

 Empat minggu. Tepat 30 hari sebelum pada akhirnya saya harus bersiap. Rabu hari ini, tak ada kelabu, hanya cerahnya langit biru. Kamu. Musik yang berputar dari youtube premiummu. Ntah judulnya apa, rasanya saya baru mendengarnya pertama kali. Lagu yang terus berputar sepanjang dia mengerjakan pasien. Lyric yang berisi seperti pengungkapan rasa cinta, cukup membuat jantung saya berdegup lebih cepat. Iyaaaa. Semesta, bolehkah saya bersikap egois ? Saya sungguh sungguh menyayanginya. Saya ingin bersamanya. Walaupun ada yang bilang akan ada banyak air mata. Saya ngga peduli. Saya akan tetap mimilihnya sekalipun ada ribuan air mata. Sebab saya yakin dia akan memberi milyaran bahagia.

Ya Allah, bisakah ?


Jika tidak bisa, maka izinkan saya menikmati satu bulan bersamanya dengan bahagia sebelum halaman terakhir selesai dibaca. Seperti hari ini. Seperti ungkapan rasa yang dia salurkan melalui nada. Seperti perhatian yang dia bilang melalui obat yang dia berikan. Seperti tawa yang kita bentuk hari ini. Seperti dia menemaniku keluar beli makan siang. Seperti dia menanyaiku lagi untuk menghubungi mamanya. Butuh lebih dari sehari hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk berani. Tapi sayang, dia yang takut. Perasaan itu jalannya berdua kak, ngga sendirian. Ya kalau mau berjalan kedepan, ngga cuma kaki kanan yang melangkah kn ?

Follow Us @soratemplates