Untuk pertama kalinya. Pertama kalinya saya pergi jauh dan hanya berdua dengan lawan jenis. Seorang pria yang telah saya jatuh cintai sejak dulu. Saya tak menyangka bahwa yang dihadirinya adalah sahabat dekatnya. Saat itu, saat ketika kita menunggu acara berlangsung, dia menceritakan bagaimana dengan abang abangnya yang membua saya mengerti akan kehadiran sesosok abang di rumah sakit. Semestaaa, saya semakin menyayanginyaaa. Sepanjang yang saya hidup. Selama yang saya sanggup.
Saya melihat sisi lain dari dirinya. Sisinya yang ga becanda banyak banyak. Sisinya yang banyak membuka obrolan. Sisinya yang perhatian. Sisinya yang melindungi. Sisi sisi lain yang berbeda, menjadikannya sesosok pria dewasa.
Saya teramat senang semestaaa, sampai saya mau nangis. Saya ngga tau lagi bagaimana bercerita tentang rasa senang itu. Terlalu bahagia hingga kehabisan kata. Sebab berjalan disampingmu adalah hal paling menyenangkan lainnya. Menyantap hidangan dan segelas minuman segar berlatar dedaunan adalah hal paling romantis yang ku lakukan berasama mu.
Tapi sayangnya keesokan harinya, dia banyak diam. Saya ngga tau kenapa. Dia seperti menghindar. Memang awalnya saya yang diam, karna saya sedang bertengkar dengan pikiran saya sendiri. Perihal dia yang bingung memilih diantara dua. Perihal saya yang tidak percaya diri karna hanya menjadi pilihan. Kadang, setakut itu saya untuk kehilangan. Lalu saya mendekatkan diri pada pemilik hati, pada yang Maha Membolak balikan hati agar hati saya dikuatkan dan dilapangkan ketika rasa takut dan kecewa itu datang. Saya mengadu banyak hal, terutama tentang keresahan, hingga semuanya tumpah lewat air mataI

No comments:
Post a Comment