September
Lagi lagi saya mengidap bahagia. Bahagia yang rasanya seperti narkoba bagi diri seniri. Bahagianya sungguh candu. Yang saya sendiri sudah tahu bahwa yang saya rasa akan memberi sakit yang terasa. Bahkan saya tak bisa membuat karya apapun. Tulisan indah nan menyentuh pun rasanya berujung pada titiik.
Hari ini, sebungkus nasi padang kita santap berdua. Tidak biasanya, saya amakan diruangan kecil tertutup berisikan meja, kursi dan komputer. Pengen aja makan disitu sampai akhirnya saya pun tak menyangka bahwa dia duduk disebalah saya dan menyantap makanannya. Sebelum dia duduk sempat terfikir 'kalau dia duduk dan makan bareng disini, berarti fix dia tertarik' Daaann.Benar. Dia duduk dan menemani saya makan. Yah Obrolan kecil meramaikan sebuah ruangan yang akan berdengin bila tak bersuara. Sebagapa kaliupun dia mengajak berbincang, saya gakan perah lagi menatap matanya, sebab saya tak mau jatub untuk kesekian kalinya.
Iya, sejujurnya saya ingin sekali untuk terus berada disisinya. Tapi gimana ? Saya benar - benar sedang berusaha sekuat tenaga untuk bahagia dan telebas dari pikiran - pikiran tentang mu.
Sebab itu, bisakah kau berada disana ?
Janganlah mendekat selangkahpun karahku.
Aku sedang berdiri memantapkan hati.
Jangan buatku goyah pada ucapan - ucapan manis yang ka beri
Jangan biarkanku mengidap bahagia yang telah kau ciptakan.
Aku seprti sedang bertarung pada perasaanku sendiri. Logiku sungguh ingin menang untuk mendapatkan bahagia diri padahal aku sendiri tak tau bahagia seperti apa yang sesungguhnya.

No comments:
Post a Comment