Iya. Beberapa hari terakhir pikiranku cukup rumit. Dibayang - bayang oleh peratanyaan kapan dan mana. bertubi - tubi seperti serangan fajar. Ditambah dengan kejadian yang bikin semakin insecure sama diri sendiri. Ngerasa kalo diri sendiri kurang segalanya.
Semua bermula dari kejadian obat yang saya kasih ke RR. Yah 2 hari saya melihat pergelangannya sakit. Bodohnya dan tanpa pikir panjang, langsung aja reflek beliin obat. Dan ternyataa ... Keesokan harinya ... Obatnya gak disentuh dong. Yup sangat menhok sampe salah satu teman saya bilang "Wid, kemaren obatnya gak diambil, katanya dia udah punya" dan gue menjawag "Oh gituu ... Yaudah kak gapapa"
dan sejak saati itu saya merasa jadi wanita paling bodoh yang mikiri ngapain sih pake kaya gitu?
Ditambah lagi AY bilang kalo gue harus move on pelan - pelan. Tanpa pikir panjang dan sejak saat itu saya berhenti. Berhenti untuk memperlakukannnya spesial. Yah. Saya sempat membenci kebodohan saya yang kadang jadi bulan bulanan rekan kerja yang lain.
Seiring berjalannya waktu, nyatanya.
Saya tak cukup kuat. Saya tak cukup kuat untuk abai padanya. Saya tak cukup tangguh untuk berdiri dihadapannya.
Bahkan segala jantung sayang tak cukup kuat untuk menatap matanya.
Segalanya bergetar. Bahkan air matapun tak mampu terbendung. Rasanya ingin tumpah ruah membanjiri seluruh hati yang diombang ambing akan kebimbangan rasa
Ya benar.
Sebesar itu rasanya. Rasaya sayang saya terhadapnya. Hingga hal - hal bodoh saya lakukan
Semakin saya menghindar, nyatanya
Semakin sakit. Semakin perih

No comments:
Post a Comment