20 Nov 2021

Dapur Emi

November

 Tentang seseorang yang selalu saya ceritakan.

Tentang seseorang yang selalu ku sisipkan namanya dalam doa.

Tentang seseorang yang ku sebut diakhir sujudku

Tentang seseorang yang mengiringi istighfar dan surat al waqiah ku


Kembali lagi ku ceritakan. Saya senang. Benar benar senang. Ketika sore itu dia meminta saya menemaninya. Setelah sekian lama, kita gak sedekat itu. Setelah sekian jauh jarak yang telah kita ciptakan. Akhirnya saya menemukan dirinya yang dulu. Dia yang periang, tidak menyebalkan, dia yang mengabulkan permintaaan siapapun bagi yang menuruti inginnya.

Ya . sore itu, untuk kedua kalinya dia membuatkan emi uuntuk ku. Sesimpel itu bahagiaku. Disanalah kami bercana. Kami bicara. brolan yang mungkin sebenarnya serius, tapi terlihat becanda. Dia yang memintaku untuk menghubungi mamahnya, dan bilang kalau mau sama anaknya. Lucu yaaa... Aku tak seberani itu kak. Aku taku. Dia yang kemudian ku tantang untuk bertemu mamahku. Dia yang menanyaiku bisa masak apa ngga, ya kubalas dengan "gue bisanya nyari duit" Dia yang bahas soal anak. Dia yang cemburu melarangku untuk pergi dengan seseorang yang sedang mendekatiku. Dan dengan bodohnya lagi lagi aku memilih ka rory. Untuk kesekian kalinya, dia adalah orang yang selalu ku relakan untuk membatalkan janji termasuk ka lia. Padahal hari itu, aku abis dikasih oleh oleh bakpia. Tapi aku tolak ajakan makannya. Dia yang kembali memberikan harapan seolah harapan itu masih ada, setelah saya coba untuk menutupnya rapat - rapat. Dia memang semenyenangkan itu. Dia adalah bahagia yang saya cipatkan sendiri yang terbias padanya.

Hari ini, saya benar benar terkejut ketika seseorang bercerita tentang dia. Saya benaar - benar tak pernah menyangka, bahwa segala bentuk perhatian yang saya beri cukup di notice. Mulai dari kado wisuda, kado ulang tahun, bahkan sesimpel ngasih makan buat dia. Dia yang terlalu cuek, memang begitu dia adanya. Lagi lagi kita yang harus mengerti dan mengalah bukan. Ini sangat membuatku senang sjujurnya. Tapi juga bingung, karena dia juga sedang dekat dengan wanita lain yang juga sedang dia harapkan restu orang tua nya. Lalu aku harus apa ? Harus tetap berjuang mengejarnya ? Berjuang itu ngga sendirian kan ? Namanya untuk mendapatkan kata 'Kita' kata 'Saling' berjuangnya juga harus berdua. Sepertinya sudah cukup lama saya berjuang. Tidak. Mungkin saya belum berjuang. Saya hanya tulus mencintainya. Saya hanya tulus untuk meperhatikannya. bahkan ketika saya tak terlihat, ketika saya tak pernah ada diingatannya, saya tetap mengingatnya. Seperti saya ucap senin itu pada mas hari bahwa sebenarnya ada / tidak ada saya gak akan ngaruh karena udah ada kedua temennya mas hari dan ka yuda. Tapi kata mas hari benear untuk menahan saya tak pulang waktu itu.
Dan kata seseornag yang bercerita pun benar, bahwa dia yang agak sulit mengekspresikan perasaannya. Dia yang juga bingun bales perhatian aku. Iya. Gapapa kalau bingung, karena akupun masih bingung dengan sikapnya yang tiba tiba mendekat dan mengetuh pintu hati yang sudah ku kunci.

Hari ini ketika aku sedang sibuk dengan laptopku, dia datang. Datang menghampiri dan bolak balik gak jelas. Aku tau, kalau dia seperti ada yang sedang ingin disampaikan. Mungkinkah dia mau menemani ? Ntahlah. Tapi hal lain yang membuatku bahagia, ketika melihat tasnya masih tergeletak di versa seakan menungguku, memberi tanda bahwa dia belum pulang. Lalu dengan bodohnya aku malah keruangan dengan barang - barangku sendiri. Aku tak mau lagi menatap matanya. Sebab sungguh aku begitu gemetar ketika mata kami bertemu.

No comments:

Post a Comment

Follow Us @soratemplates